A Little Trip to Penang (Part 1)

Assalammu’alaikum teman-teman.

Alhamdulillah akhirnya saya kembali kesini setelah sekian purnama mengumpulkan niat untuk merangkaikan sebuah kata hingga berangsur-angsur menjadi cerita.

Sesuai judulnya, saya ingin berbagi kisah tentang perjalanan saya ke sebuah pulau di luar Indonesia, bernama Penang. Kenapa disebut litte trip? Karena perjalanannya sangat singkat, sekitar 4 hari 3 malam, dengan rincian hari pertama dan terkahir untuk dating dan pulang, sehingga saya hanya punya waktu 2 hari untuk melakukan sesuatu di Penang.

Saya punya alasan, yang tidak bisa saya sampaikan disini, kenapa hanya sebentar saja di Penang. Tapi apalah arti waktu yang sebentar dengan pengalaman yang saya dapatkan. (Ceilee…). Perjalanan ini tidak direncanakan, semua serba dadakan. Mulai dari wacana pergi, pemilihan tanggal, kepastian berangkat atau tidak, menukar uang, dan kebutuhan packing bawaan.

Rencana awal hanya mama, papa, dan adik saya yang akan berangkat ke Penang. Rencana itu disampaikan digrup WhatsApp (WA) kami. Saya dan kakak tidak ada dalam rencana itu, hanya sekedar diberitahu saja. Kemudian saya sampaikan digrup, “Apa Opi ke MEdan saja, biar Adik tetap sekolah?”. Mulanya saya dan kakak setuju untuk pulang, lalu hal itu kami urungkan ketika melihat harga tiket SUB-KNO dan JKT-KNO diaplikasi Trav*loka, harganya mahal sekali. Maklum, tanggal yang kami pilih adalah hari kejepit nasional, dimana pasti banyak sekali orang cuti untuk liburan. AKhirnya tidak jadilah kami pulang dan kembali pada rencana awal.

Tidak lama kemudian Papa menyampaikan digrup agar saya dan kakak ikut saja ke Penang, karena harganya hanya 1/3 dari harga tiket pulang ke rumah. APA?! Ya begitulah, lebih murah pergi keluar negeri daripada perjalanan dalam negeri. Saya juga tidak tahu kenapa bisa begitu. Singkat cerita, (17/11) berangkatlah kami ke Penang dari kota yang berbeda-beda. Kakak dari Jakarta, Saya dari Surabaya, Mama-papa-adik dari Medan. Kakak dan Saya sampai lebih dulu di Penang, sementara Mama-papa-adik pesawatnya delay 12 jam : ). Jadwal awal pukul 9 pagi, tapi delay hingga 9 malam. PAdahal penerbangan Medan – Penang hanya 30 menit : ) Coba tebak maskapai apa di Indonesia yang tega melakukan itu?

Saya dan kakak pun pergi duluan ke apartemen tempat kami menginap. Karena Mama-papa-adik saya baru sampai jam 12 malam nanti. Kami menginap di Mewah Court Penang yang beralamat di Jalan Hijau 5, Taman Green Lane, Batu Lanchang, Jelutong. (Info tentang Apartemen ini bias dilihat di www.tempatwisata-malaysia.blogspot.com). Sistemnya adalah sewa kamar, (50-60 ringgit per kamar) karena dalam satu unit terdapat 4 kamar. Kebetulan pemilik unit tempat kami menyewa kamar adalah orang Jawa Tengah. Dan salah satu kamar di unit tersebut diisi oleh pasangan suami-istri dari Medan. Sehingga saya merasa seperti sedang di Indonesia, bukan di Penang 😀

Penduduk di apartemen ini mayoritas etnis Cina, India, Melayu, dan Indonesia. Sehingga disekitar apartemen terdapat rumah makan yang menyediakan makanan halal. Syukurlah saya dan kakak bawa uang ringgit, jadi kami bisa pergi beli makan dan minum disekitar apartemen. Kami berharap menemukan mini market seperti Indom*ret atau Af*mart, tentu tidak ada. Mini market di Penang yang kami temukan bernama Eaton dan Seven Eleven. Kami juga menemukan toko kelontong yang menjual banyak sekali makanan dan minuman yang tidak ditemukan di Indonesia. Hal itu membuat kami begitu tertarik untuk berlama-lama di toko kelontong itu. Menysusuri setiap lorong tokonya. Padahal awalnya kami butuh beli air mineral saja.

Kami beli galon karena saya dan kakak minum sangat banyak. Eits…tapi galon disini berbeda, kapasitasnya hanya 5,5 liter dan bisa diisi ulang menggunakan mesin pengisi air secara mandiri yang tersedia dilantai bawah apartemen. Harga galonnya cukup beragam, mulai dari 6-8 ringgit, tidak tahu apa bedanya karena saya hanya beli yang harga termurah (maklum anak kos). Jika habis bisa isi ulang dengan harga 10 sen per 1 liter dimesin pengisi aiar yang ada dilanatai bawah apartemen. Tapi saya tidak terlalu suka rasa airnya, kayak ada asam-asamnya gitu. Namun apalah daya, demi melepas dahaga, ya tetap saya minum sih.

Pagi pertama kami di penang (18/11) sangat membingungkan. Jika biasanya orang liburan berangkat pagi-pagi sekali, kami jam 9 pagi baru mulai siap-siap untuk pergi. Sehingga sekitar pukul 11 kami baru pergi keluar apartemen. Kami memutuskan pergi ke KOMTAR di George Town, menggunakan Grab. Ya, Grab itu punya Malaysia, sehingga bisa digunakan selama di Penang. KOMTAR adalah singkatan dari Komplek Tun Abdul Razak. Menurut saya itu pusatnya Penang, karena banyak sekali gedung-gedung tinggi berdiri gagah disana. Muali dari pusat perbelanjaan, perkantoran, tempat makan, semua ada disana. Bahkan mobilitas kendaraan umu, bus, juga berpusat disana.

Alasan kami pergi ke KOMTAR, adalah membeli tiket bus untuk turis seharga 30 ringgit, lebih murah untuk pergi kemana-mana dengan bus daripada harus menggunakan Grab. Tapi ternyata tourist centre tutup dan petugas bus yang ada disitu tidak tahu tentang tiket bus turis. Kami pun terdiam sejenak di KOMTAR. Dalam perjalanan seperti ini, saya dan papa adalah pusat navigasi. Kami berdua yang menentukan kemana akan pergi, bagaimana aksesnya, apa yang ada disana, dan hal lain yang terkait. Mama, kakak, dan adik adalah pelengkap dan pemberi masukan saja. Sehingga biasanya saya selalu memegang peta karena menjadi petunjuk arah.

Sambil berpikir hendak kemana setelah kecewa karena tourist centre tutup, kami pergi ke mini market di terminal KOMTAR untuk membeli snek sambal memikirkan apa yang akan kami lakukan setelah ini. Akhirnya kami memutuskan untuk menaik Free CAT Bus, yaitu bus untuk berkeliling di sekitar George Town tanpa biaya (selengkapnya baca disini https://mypenang.gov.my/culture-heritage/heritage-zones/free-cat-bus/). Selain Free CAT Bus, juga ada Bus Rapid Penang, yaitu Bus untuk perjalanan ke daerah-daerah di Penang dan memerlukan biaya. (Saya mencari informasinya dari pengalaman orang lain disini http://jejaklangkahku.com/2017/04/15/transportasi-dari-bandara-keliling-keliling-kota-penang-pake-bus-rapid-penang-ajah/). Karena kami menaiki Free CAT Bus tanpa tujuan, akhirnya kami kembali lagi ke terminal KOMTAR.

Kemudian kami putuskan untuk shalat terlebih dahulu. Untuk sampai ke Masjid, kami berjalan kaki sekitar 10-15 menit. Kami shalat di Masjid dekat Mall bernama GAMA (saya lupa nama masjidnya, karena halamannya kecil dan tidak terlalu tampak seperti masjid dari luar). Setelah shalat, kami memutuskan untuk makan. Setelah browsing dan berdiskusi, kami memilih untuk makan Nasi Kandar. Nasi kandar ini khasnya Penang, yaitu nasi yang dimasak Bersama rempah asli India, jadi aroma dan rasanya khas rempah banget. Kami memilih rumah makan Nasi Kandar Kassim, yang jual ya orang India. Coba browsing diinternet Top Nasi Kandar di Penang, pasti banyak sekali referensi lokasinya, kebetulan Nasi Kandar Kassim letaknya dekat dengan masjid tempat kami shalat.

Saya memilih lauk Ayam dan Tumis kentang ditambah dengan kuah Kari. Saya tidak harus komentar apa tapi sungguh itu lezat sekali. Mungkin Nasi Kandar ini ibarat Nasi Padangnya Indonesia, nikmat tidak terelakkan. Menunya macam-macam dan cocok banget dilidah orang Indonesia. Ada ayam, ikan, cumi, sayur-sayur lainnya. Setelah memilih lauk, kita ke meja kasir dulu untuk totalan harga, bayarnya bisa terakhir. Harganya beragam, tergantung lauk yang dipilih, kurang lebih seporsi dikenai 13-20 ringgit. Selain makanan, minumannya juga jangan lupa dicoba. Adik dan Kakak saya memesan teh Tarik. Kami pun bisa melihat proses pembuatannya. Saya dan papa mencoba Limau (minuman jeruk yang bentuknya seperti jeruk nipis, tapi isinya seperti jeruk peras). Penjualnya tidak mengerti saat saya katakan ‘do you have orange? Lime? Jeruk?’, lalu papa bilang “Limau?’, barulah penjualnya paham. Disini, jeruk itu semacam rujak atau asinan buah gitu, makanya mereka bingung saat saya bilang mau minum jeruk.

Setelah makan, kami ingin pergi ke Esplanade, Padang Kota Lama. Disana ada pantai yang katanya lumayan bagus untuk menikmati waktu sambal menunggu matahari terbenam. Tapi karena kami tidak punya uang receh untuk naik bus, kami pergi mengisi saldo Grab di Seven Eleven (Sevel). Sepertinya Grab akan menjadi transportasi utama kami selama disini, karena setelah menghitung-hitung harganya, sama saja dengan kami naik Bus Rapid Penang. Rata-rata mobil yang digunakan adalah city car, sehingga ukurannya kecil dan rendah. Karena kami berlima, saat memesan Grab harus memilih yang kapasitasnya 5-6 orang.

Sampai di Esplanade, Padang Kota Lama, terdapat lapangan luas dan pantai yang terbentang. Tempatnya memang nyaman untuk duduk-duduk atau bermain Bersama keluarga di lapangan. Banyak orang jualan disekitar lapangan dan juga ada foodcourt. Papa dan mama mencoba Es Chendol khas Penang, disini es cendol pakai kacang merah, ada pilihan lainnya juga. Setelah itu kami berfoto-foto ria, kakak dan adik saya membeli gelembung sabun untuk dijadikan properti berfoto. Sebelum kembali ke apartemen, kami duduk lagi untuk mencoba asinan buah dan kacang rebus. Ukuran kacangnya besar, tidak seperti kacang di Indonesia. Harga jajanan disekitar lapangan berkisar 2-6 ringgit, baik minuman atau makanan. Setelah itu kami pulang ke apartemen menggunakan Grab, sekitar 30 menit perjalanan. Selesai sudah perjalanan kami dihari pertama.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s